MR PIP
Judul : Mr Pip
Pengarang : Lloyd Jones, 2006
Penerbit : Bantam Dell, 2008
Tebal : 256 halaman ; 10,5 x 17,5 cm
Buku ini bercerita tentang kisah seorang anak perempuan di sebuah pulau di lautan Pasific, pulau yang bernama Bougainville, pada awal tahun 1990-an. Matilda ditinggal ayahnya saat dia berumur 11 tahun. Ayahnya pergi meninggalkan pulau untuk bekerja di Australia, setelah tambang di pulau tersebut, tempat ayahnya bekerja sebelumnya, ditutup.
Pulau itu sedang dikenakan embargo oleh pemerintah Papua New Guinea, untuk menghentikan pemberontakan yang dipimpin oleh Francis Ona. Sejak itu juga, orang-orang kulit putih, yang dulu banyak bekerja di sana, satu persatu meninggalkan tempat itu, dan hanya satu orang yang tertinggal. Pria yang menikah dengan wanita dari pulau itu, Mr Watts, yang dijuluki Pop Eye, karena matanya yang selalu melotot. Pop Eye adalah seorang pria aneh, yang setiap hari mendorong istrinya Grace di dalam sebuah troli, sambil mengenakan hidung badut yang berwarna merah.
Segala hal yang dulunya dinikmati oleh penduduk desa tempat Matilda tinggal, kini tak lagi dapat diperoleh. Makanan kalengan, pakaian baru, bahkan bahan bakar untuk generator, semua tinggal kenangan. Sekolah pun ditutup, tak ada yang mengajar.
Hingga suatu hari, Matilda dibangunkan ibunya untuk pergi ke sekolah. Sebuah kejutan, Mr Watts akan menjadi guru mereka. Tapi apa yang akan diajarkan si kulit putih yang selama ini dianggap sebagai orang aneh oleh penduduk desa itu?
Great Expectations karya Charles Dickens pun memikat anak-anak desa itu. Mereka diperkenalkan pada dunia lain yang tak terbayangkan oleh mereka sebelumnya. London di tahun 1800-an. Matilda sendiri terpesona pada karakater Pip, dan pemujaannya pada karakter itu membuat ibunya sendiri kesal dan marah pada Mr Watts, karena membuat Matilda lebih percaya pada karakter fiksi daripada pada Tuhan. Hal itu juga yang membuat perang dingin antara ibu Matilda dan Mr Watts.
Tapi ternyata kehidupan tak selamanya menyenangkan. Pasukan berkulit merah yang dikirimkan Port Moresby untuk memberantas pemberontak telah menghancurkan desa itu, membinasakan semua yang dimiliki penduduk, barang-barang mereka yang tak seberapa, dan rumah mereka. Dan akhirnya, bukan hanya barang-barang yang dihancurkan, nyawa pun direnggut. Matilda pun akhirnya harus meninggalkan tempatnya dibesarkan.
Setelah bertemu kembali dengan ayahnya di Australia, Matilda pun belajar tentang Mr Dickens, dan belajar lebih banyak tentang siapa sebenarnya Mr Dickens, dan Great Expectation menjadi buku favoritnya, buku yang telah begitu banyak menjadi teman dalam masa-masa di pulau Bougenville, buku yang menjadi sebab begitu banyak kehancuran dan kehilangan karena kesalahpahaman yang terjadi. Dan Matilda pun akhirnya mengetahui lebih banyak tentang siapa sebenarnya Mr Watts, lebih dari yang dapat diperolehkan langsung dari Mr Watts.
Sebelumnya, aku gak pernah tahu tentang pulau Bougainville, yang tahu yah Bougainville itu kan nama pohon yang bunganya bagus warnanya, dan bisa tumbuh di tanah kering. Tapi ternyata, pulau satu itu punya cukup banyak kisah sejarah perebutan kekuasaan, dan semuanya karena kandungan barang tambang yang ada di pulau tersebut.
Tapi yang menarik perhatianku waktu pertama kali lihat buku ini yah karena menyebut-nyebut tentang sebuah buku yang katanya merubah kehidupan sebuah desa. Dan memang itu yang akan kita temukan di buku ini. Great Expectation telah berhasil membuat anak-anak di desa tersebut untuk mengalami kehidupan yang lain dari yang sedang mereka alami. Anak-anak yang sedang hidup dalam tekanan, terpencil dari dunia luar, tapi bersama sebuah novel, mereka melihat sesuatu yang lain.
Kalimat-kalimat Lloyd Jones itu enak dibacanya, gak muter-muter gitu, tapi gak juga terlalu standar. ^.^
Cuma yah, buku ini buku sedih, hu hu hu, banyak banget yang sedih-sedih di sini, dan endingnya juga gak menyenangkan, karena sudah terlanjur sedih. Yah gimana gak sedih, pas kayaknya anak-anak itu sudah menemukan kembali sesuatu yang membuat hidup mereka lebih menyenangkan, tahu-tahu desa mereka dihancurkan. Dan waktu Mr Watts sepertinya mau menceritakan siapa dia, dan hampir saja Mr Watts, Matilda dan ibunya sepertinya bisa meninggalkan tempat menyedihkan itu...... arggh.... menyebalkaaaaan...... Eh tapi bukan berarti gak bagus sih, cuma yah itu, jenis akhir cerita yang bikin kita nangis hu hu hu hu
Baca lengkap di: BUKUBUKUKU