Silaturrahim Makna
APABILA sesorang menulis tentu dengan tujuan tertentu. Penulislah yang pertama memahami tujuannya menulis. Hampir bisa dipastikan, sebagian besar bertujuan baik. Ada memang yang rada ‘aneh’, tetapi prosentasenya kecil. Saya mengamati tulisan seseorang di blog atau facebook yang isinya rada-rada miring. Cenderung ‘menyerang’ orang lain.
Dalam menulis secara tidak tertulis ada konvensi tidak menyerang pribadi. Dalam mengkritik, sebaiknya lebih ditujukan pada umum dalam artian sebagai korekasi bagi sesama. Dengan demikian tulisan lebih berarti, bermakna, berguna bagi khalayak. Misalnya, tentang sistem pendidikan atau guru, bukan Ersis guru SMU Anu.
Jujur saja, karena semangat memotivasi mengebu-gebu mengkritik cara pengajaran menulis yang sangat teoritik. Menurut saya ada kelemahan mendasar dalam pendidikan (menulis) di sekolah formal. Pendidikan (menulis) mengabaikan praktik, sebab lebih bertumpu pada teori. Banyak lulusan pendidikan, jangan tingkat dasar dan dan menengah, lulusan pendidikan tinggi (perguruan tinggi) masih ada yang kacau- balau kalau menulis. Payah.
Implikasinya, banyak ide, gagasan, atau hasil pikir yang begitu bagu, juga pengalaman lapangan, yang tidak ditulis dengan baik. Pada kondisi demikian dapat dimaklumi produksi karya tulis (buku) bangsa kita sangat rendah. Bayangkan kalah dari warga Vietnam yang luluh-lantak karena perang. Apalagi kalau dibandingkan dengan warga negara-negara maju.
ERSIS WRITING THEORY
Dengan seikit ‘gagah’ (dasar tidak tahu mau, kali) ‘mencipta’ cara menulis mudah, terkadang dilabeli sebagai ‘Revolusi menulis’ bertitel Ersis Writing Theory (EWT). EWT menempatkan aktivitas menulis dalam bangun mindset mudah dan memudahkan. Ratusan tulisan tentang menulis, dan telah menjadi lebih belasan buku, membahas hal dimaksud. Ada memang pembaca yang merasa tersentil urat malunya, ada pula yang tersenang, dan ada pula yang merasa tersindir. Tergantung masing-masing pembaca.
Bagi saya, tujuan menulis serial menulis, tidak lain tidak bukan, agar pembaca, terutama penulis pemula, lebih termotivasi. Pembacaan pribadi terhadap berbagai hal, ditambah pengalaman yang belum seberapa, mematri menulis sebagai satu kunci bagi peradaban. Karena menulis (lanjutan membaca) kita terbedakan dari binatang. Tulisan adalah pula jembatan silaturrahim.
Melalui tulisan kita saling berbagi hal-hal bermakna. Perjumpaan dan persaudaraan tanpa bersua. Bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, saling ‘berbincang’ tanpa bertatap. Makna-makna disampaikan dan tersampaikan. Harap harapan, saling menolong, dan berbagai hal terkoneksi untuk ‘dipecahkan’. Yang berkelebihan di satu hal berbagi untuk yang membutuhkan. Tulisan memuat dan menyampaikan hal-hal berguna, hal-hal bermafaat.
Sampeyan boleh tinggal di Sabang atau di Merauke. Melalui jembatan menulis berkomunikasi tanpa bersua, menjadi saudara tanpa pernah saling melihat wajahnya. Keakraban terjalin tanpa bertemu secara fisik. Itu satu dari samudera kepositifan menulis.
SALING MEMOTIVASI
Menulis dalam kandungan silaturrahmi, misalnya, terjalin dalam saling memberi, memotivasi. Teman-teman dunia maya, Siti Fatimah Ahmad yang kuliah di Universiti Kebangsaan Kuala Lumpur; seolah-olah berbincang tiap hari melalui tulisan. Belajar bahasa Malaysia dari Cikgu secara tidak langsung. Seperti apa sih tampang asli Sawali Tuhsetya (Kendal), Anang Tutur (Surabaya), Trisnowati Jospia (Bandar Lampung), Meiy (Medan), Latifah (Kuala Lumpur), Imelda di (Jepang), Tarie (Chile) dan ribuan lainnya yang telah menjadi keluarga besar menulis, sungguh tidak pernah melihat. Tapi, dari tulisan-tulisan mereka meneguk makna, dan memaknai sebagai sedekah bagi rumah pengetahuan dan persaudaraan.
Setelah buku-buku saya beredar secara nasional sungguh tidak berbilang mendapatkan ‘teman baru’. Saya sungguh menikmati persaudaraan. Ada rindu, ada kangen. Karena itu tidak merasa rugi secuilpun menatap layar komputer. Menulis, menulis, dan terus menulis. Menulis sembari berbagi, menulis bersilaturrahim.
Wahai Sudara ‘seiman’ dalam tulisan. Kirimkan daku makna-makna kandungan kalbumu, layangkan melalui madah-madah kehidupan, asahkan pikir dan jiwaku melalui jari-jari kalian. Terimalah pula paket kata-kataku. Ajari aku. Mari saling memberi, berbagi agar torehan kalimah kita semakin bermakna. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Baca lengkap di: Menulis Tanpa Berguru