Pematung

Harimau pergi meninggalkan belang, pematung sembunyi meninggalkan ruang. Saya baru saja memiuhkan sebuah pepatah untuk menggambarkan sumbangan besar pematung Edhi Sunarso. Kita di Jakarta sudah tak berhingga kali menyaksikan sejumlah patungnya tanpa perlu tahu siapa penciptanya. Patung “Selamat Datang” di Bundaran Hotel Indonesia, patung “Dirgantara” di Pancoran, dan patung “Pembebasan Irian Barat” di Lapangan Banteng, misalnya, bukan hanya menjadi penanda penting ibu kota kita, namun juga merumuskan apa dan bagaimana ruang kota semestinya. Patung-patung itu seakan sudah menjadi bagian dari bawah-sadar kita: seakan tidak ada Jakarta tanpa kehadiran mereka. Ya, Jakarta kita, bukan Jakarta mereka. Ketika para pengembang, saudagar, dan birokrat mendorong Jakarta ke dalam “globalisme” dan menyeru bahwa masa depan sudah tiba hari ini, patung-patung itu menegaskan bahwa masa lalu adalah hari ini.
Saya tidak sedang menganjurkan supaya anda sekalian kembali ke masa lalu. Manakala ruang-ruang publik kita, khususnya di Jakarta, hanya sekadar sisa ruang dari “internasionalisasi” pembangunan Jakarta, maka patung-patung Edhi Sunarso senantiasa mengingatkan kita bahwa ruang-ruang publik kita dulu adalah ruang-ruang organik, yang menebalkan kehadiran kita sebagai warga. Patung-patung yang dibuat pada 1960-an itu bukan hanya mewujudkan apa yang dikatakan Chairil Anwar “bangsa muda menjadi, baru bisa bilang aku”, namun juga menjadi bukti bahwa di masa kemarin kita mampu merancang ruang kota dengan sangat baik. Benar bahwa Presiden Sukarno berada “di balik” pembuatan patung-patung itu, namun adalah Edhi Sunarso sendiri yang secara bebas-lugas mengatasi nasionalisme sempit dengan menciptakan bentuk-bentuk yang mendarah-daging, yang menciptakan gelora lain. Pada hari ini kita dapat mengatakan bahwa patung-patung itu masih berdaya hidup sekalipun ruang-ruang di sekitarnya makin bersifat homogen dan “universal”. Monumen-monumen itu membuktikan bahwa Jakarta kita, di hadapan kapitalisme mutakhir sedunia, masih bersifat “pascakolonial”.
Dalam kesempatan ini saya ingin juga mengatakan bahwa Edhi Sunarso adalah the last of the Mohicans dari generasi seniman yang tumbuh pada masa Revolusi Kemerdekaan. Angkatan ini telah berjasa besar dengan memperkenalkan konsep—dan juga metode—“jiwa nampak”: seniman harus memperjuangkan keseorangannya, individualitasnya, membuat jiwanya sendiri terlihat dalam bentuk-bentuk ciptaannya; namun di sisi lain, ia juga, sebagai anak masyarakat dan sejarahnya, mengancang figur-figur yang, sekalipun terpiuh, tetap berterima. “Jiwa nampak” bukan hanya perjuangan demi kesenian modern yang bersifat nasional, tetapi juga “teknik” untuk menggali bentuk dengan, misalnya, menggunakan model hidup. Adapun Edhi Sunarso sendiri, di antara teman-teman seangkatannya, adalah juga sosok langka. Ia tidak terlibat di panggung-panggung perdebatan seni; ia tak melahirkan kredo kesenian; ia tak pernah terdengar berkomentar tentang karya-karya orang lain; ia pun selalu jauh dari sorot kamera. Ia bekerja diam-diam, dan membiarkan patung-patungnya sendiri berbicara langsung kepada kita. Dan, monumen-monumen itu ternyata bukan hanya berkata, tapi juga mengerjai kesadaran kita.
Edhi Sunarso juga langka dalam arti bahwa ia mengalami, atau melihat dari sangat dekat, gelombang turun-naik dalam sejarah kesenian kita sampai hari ini. Ia menjadi bagian dari generasi pertama seni rupa modern Indonesia yang sebagian besar eksponennya sudah tiada (namun, jika generasinya gemar berkiat-politik, maka Edhi sebaliknya), dan ia mengalami kampus tempatnya mengajar menjadi pusat perlawanan terhadap generasi-generasi seniman terdahulu; ia sendiri tetap diam-sunyi dalam arti juga tak menjadi sasaran dari para pemberontak muda-belia itu. Saya percaya ia tak terpengaruh oleh semua itu, dan tetap terserap oleh kerja, kerja, kerja belaka. Memang ia menjelajahi gaya-gaya lain, misalnya saja gaya “abstrak”, tetapi ia selalu jauh dari riuh-rendah kritik seni. (Sementara itu, saya percaya, angkatan-angkatan yang lebih mutakhir bergerak ke arah “seni konseptual”, yang makin mengabaikan “jiwa nampak”.) Di tengah arus seni kontemporer kita hari ini, mantan gerilyawan ini bagaikan anakronisme: kritik terhadap arus dominan yang berseru bahwa apa saja boleh, anything goes, asal dilandasi kredo yang kuat.
Pameran di Galeri Salihara ini memang tidak bersifat retrospektif, tetapi, bagi saya, ia penting dalam tiga arti. Pertama, ia adalah jendela untuk meninjau kembali karya-karya monumental Edhi Sunarso; saya tekankan hal ini karena pada masa belakangan ini kita jarang sekali memikirkan pendirian patung dalam hubungannya dengan penyelenggaraan ruang publik, atau sebaliknya. Pajangan dan susunan foto karya sejumlah fotografer bukan hanya dokumentasi yang hangat, namun juga “arkeologi pengetahuan” yang bersifat menggugah, mungkin juga menghasut. Kedua, karya-karya yang terpajang akan menunjukkan evolusi kekaryaan Edhi Sunarso; namun mungkin saja kata “evolusi” tidak tepat, karena si pematung tidak berjalan melalui satu garis lempang: ia bisa berbelok tiba-tiba, “mengkhianati” cirinya terdahulu, mengambil gaya lain yang tak terduga, dan kembali lagi ke belakang. Ketiga, pameran ini, seperti pameran Edhi Sunarso di Yogyakarta pada Januari lalu, menampilkan sang pematung ke tengah panggung; maaf, bukan dirinya yang ditonjolkan, melainkan suaranya, kesaksiannya akan sebuah “zaman keemasan” ketika sang maecenas-penguasa dan sang seniman menjalin hubungan timbal-balik untuk membangun kesenian yang bersifat publik.
Kita semua merasa berbahagia karena Edhi Sunarso berada di tengah kita; ya, bukan hanya “berada”, karena ia pasti tak akan berlama-lama di tengah. Ia telah mengamalkan “kematian sang pengarang” jauh sebelum kita mendengar prinsip ini. Hanya monumen-monumennya yang dibiarkannya bicara, supaya kita tahu bagaimana menyelenggarakan ruang-ruang publik dengan sepenuh hati.
(Tulisan di atas adalah pengantar untuk pameran Edhi Sunarso di Galeri Salihara, Jakarta, yang akan dibuka pada tanggal 14 Agustus 2010. Ilustrasi adalah "Wajah Monumen Pembebasan Irian Barat" karya perunggu sang pematung, yang difoto oleh Dwi Oblo.)
Baca lengkap di: Kualakuali Nirwan Dewanto