Kiat Menulis 7 : TAKUT BERBEDA

SATU dari sekian ‘naluri’ manusia adalah meniru. Kalau basik pikiran bagus meniru hal-hal baik. Kalau basik pikiran ‘jorok’ yang ditiru hal-hal buruk. Wajar anak pencoleng ‘menyalin’ kehebatan mencoleng bapaknya. Anak kiai cenderung mengikuti bapaknya menjadi lentera umat. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.

Terlepas benarnya, ada juga anak orang baik-baik menjadi pencandu narkoba. Mereka yang ‘bertitel’ haji masuk buih karena korupsi. Kecenderungan adalah tesis yang kadang dipatahkan realitas. Tetapi, dalam menulis saya memindai penyakit peniruan yang berlebihan menghambat perkembangan kemampuan menulis. Apa itu?

Adakalanya pengagum tulisan HAMKA berkehendak menulis seperti HAMKA. Bukan soal salah atau benar, tetapi mana mungkin gaya HAMKA ditiru. HAMKA adalah HAMKA, Ersis adalah Ersis. Dalam konsep ilmu sosial manusia adalah individu yang berbeda dengan individu lainnya, individual differeces. Orang kembar saja tidak persis sama.

Itulah sebabnya saya mengembangkan gaya tulisan sendiri yang kemudian dilabeli Ersis Writing Theory (EWT). Allah SWT tidak memfotokopi ciptaanNya, tidak ada manusia yang sama. Kepala boleh sama putih, maksudnya beruban, tetapi ‘isi kepala’ berbeda-beda. Keberbedaan adalah rahmat. Tentu saja bagi fefanatik menulis ‘satu rasa’ ala komunis tidak cocok. Bagi yang fanatik meniru jelas ke luar dari pakem menulis. Peduli amat. Emang menulis memfotokopi?

MENULIS MENCIPTA

Menulis merangkai makna dari kata-kata yang ‘disepakati’ sehingga tulisan bisa dipahami dalam persepsi, pada bahasa yang sama. Kata-kata yang ‘disepakati’ ketika dirangkai merupakan hak perangkai, penulis. Setiap penulis mempunyai, pikiran, gaya, atau kecenderungan yang tidak sama dengan yang lainnya. Setiap manusia khas.

Adalah wajar jika seseorang mengagumi penulis tertentu lalu terpengaruh oleh gayanya. Yang tidak wajar meniru secara utuh bukan saja gaya, tetapi tulisan penulis kesayangan. Namanya plagiat. Terlepas seberapa kadar plagiasitasnya, penlis sedemikian membunuh dirinya. Idealnya, setiap orang mempunyai gaya sendiri.

Implikasi logisnya jangan takut berbeda. Profesor saya, guru saya, patokan pikiran demikian, gaya menulisnya begitu, paparannya begana. Biar saja. Kenapa takut berbeda? Tanamkan semangat inovatif: “Saya akan menulis lebih bagus dari profesor yang mengajarkan saya menulis”. Itu baru muid hebat. Murid yang menghargai perbedaan dan mengaplikasikan dalam tindakan. Komunis dibenci prinsipnya dipaka. Weleh weleh logika macam tu basik berpikirnya.

Ingat. menulis menciptakan ‘kalimat’ dari gagasan atau ide yang berbeda dengan apa yang telah ditulis. Setidaknya, pada tulisan yang baik ada hal-hal baru. Kalau demikian adanya peliharalah perbedaan. Jangan takut berbeda.

Andrea Hirata, Habiburrahman, atau Keong Racun disukai karena berbeza dengan apa yang populer sebelumnya. Mereka ‘mencipta’ hal baru dan karena itu menarik.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Baca lengkap di: Menulis Tanpa Berguru