Kiat Menulis 5 : TAKUT BERHASIL
SATU dari sekian penyakit para penulis pemula yang saya ‘temui’ secara tidak sengaja adalah takut berhasil. Takut berhasil? Bapak ini ada-ada saja. Semua orang maunya berhasil, ini kok takut berhasil. Aza-aza sazza.
Begini. Kalau seseorang ingin berhasil tentu akan berusaha untuk mencapainya, mewujudkan, merealisasikan. Bagi yang ambisius, kalau tidak bisa jalan halal, jalan haram pun ditempuh. Istilah anak-anak muda: “Dari pada gagal mendapatkannya, lebih baik dukun bicara”.
Begitu pula dalam menulis. Menulis paduan serasi antara olahan pengetahuan, pemikiran, pengalaman, atau hal sepadannya di ranah yang diformulasikan dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Dengan kata lain ada dua hal tergayutnya.
Pertama, pengisian dan pengolahan bahan di otak. Terserah mau dipicu ide, rangsangan, atau apa, yang penting otak bekerja dan mengolahnya menjadi konsep bermakna. Semua itu berproses di otak, hanya ada di otak, dan hanya lagi, hanya diketahui oleh yang berpikir itu, tidak selain dia.
Kedua, menulis ‘memindahkan’ apa yang ada di otak, di pikiran, menjadi anyaman kata-kata bermakna. Pada posisi demikian, menulis berarti keterampilan, menjadikan pikiran menjadi tulisan. Tidak ada sekolahnya. Menulis pikiran menjadi kompetensi manakala dilakukan. Mau mendapat guru sehebat apa pun, memahami teori menulis seyahud apa pun, atau membaca jutaan buku motivasi, kalau tidak dilakukan, mustahil menjadi keterampilan. Menulis berarti memasihkan.
MEMELIHARA MALAS
Bagi yang tidak mau berhasil menulis di mindset dan perilaku ditamankan hal-hal sebaliknya. Malas membaca, mengamati, berpikir, dan atau malas ‘melayangkan’ ide menjadi sesuatu yang matang untuk ditulis. Sudah demikian, dibiasakan menulis satu-dua aline, stop. Akan celaka dilengkapi dengan keluhan ini-itu. Menjadi pengeluh sejati.
Sudah demikian, dibiasakan mencaci tulisan sendiri, bukan menikmati sembari menyadari kekurangan untuk diperbaiki. Sudah tahu baru penulis ‘bau kencur’, tulisan dibanding-bandingkan dengan karya Kafi Kurnia atau Hernowo. Lalu, tulisan sendiri dicaci. Keterlaluan.
Akibatnya, pada mindset ditumpuk segala hal yang berbau kegagalan, kejelekkan, dan kekerdilan kemampuan diri. Alias, yang ditanamkan hal-hal yang menghantui, jauh dari keberhasilan. Lah, kalau berhasil kan jadi lucu jadinya.
Dengan kata lain, maunya berhasil, tetapi tindakan bagaimana agar tidak berhasil. Hasil adalah muara tindakan. Jadi, takut berhasil … he he. Alangkah malangnya kalau menjadi manusia sedemikian. Lalu?
Sadari, balikan midset 180 derajat. Gantungkan cita-cita setinggi langit, begitu pepatah. Yes, tanamkan di mindset keberhailan menulis diikuti upaya merealisasikannya. Kalau ada hal-hal yang menjadikan kendala, enyahkan. Alangkah tidak cerdasnya berkeinginan menulis yang dibaca kengerian atau risiko menakutkan tentang menulis. Berkehendak menulis, teman yang diakrabi mereka yang suka membantai tulisan. Coba berteman dengan Ersis, pastilah motivasi yang didapat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Baca lengkap di: Menulis Tanpa Berguru