Kiat Menulis 4 : TAKUT DICEMOOH

ALKISAH, seorang mahasiswa sangat bangga ketika tulisannya dimuat di satu media cetak. Bukan saja honor tulisan yang bakal diperdapat, tetapi buah pikirnya dibaca sekiran ribu orang. Hatinya berbunga-bunga. Teman-teman meapresiasi, dosen memuji, orang tua di kampung bercerita kesana-kemari sambil mempertontonkan tulisan anaknya. Dunia terasa begitu ramah dan bersahabat. Ceile.

Alkisah pula, seorang mahasiswa yang merasa dirinya hebat, memproklamirkan diri sebagai penulis, membuat blog hebat menurut versinya. Pada awalnya, teman-teman berkunjung, lalu mundur satu per satu. Sekali berkunjung dan selesai. Jadilah blognya sepi pengunjung.

Satu-satunya kepercayaan yang tidak runtuh, dia tetap merasa hebat menulis, blognya blog hebat. Katanya sih. Entah kapan berkaca diri, hebat menurut kita belum tentu baik menurut orang. Bermain di wilayah publik, bukan penilaian orang-orang tertentu, apalagi penilaian diri sendiri yang menjadi patokan. Publik mempunya hukum penilaian tersendiri.

Seorang mahasiswa sangat bangga menyelesaikan karya tulis. Teman-teman diminta mengomentari dan mengoreksi, hasilnya keyakinan diri semakin tumbuh. Sembari berlagak, dikonsultasikan dengan dosennya.

“Waduh, mahasiswa menulis kok separah ini. Sebagai dosenmu, saya jadi malu. Perbanyak membaca, pertajam logika, contoh tulisan penulis-penulis hebat. Jangan membuat malulah. Seperti tulisan anak SD saja”.

PENCEMOOH PANDIR

Dapat dipastikan, cemoohan dari orang yang diharapkan memberi semangat dan membimbing membuat nyali ciut. Kalau tidak disadari, bisa-bisa menjadi trauma. Apalagi, kalau bertemu kritikus bak pengamat sepakbola, pintar memblejeti, tetapi dungu memberi contoh. Apa saja, tulisan orang dihajaranya. Iblisnya pula, dia tidak menulis. Terlahir khusus untuk mencemooh.

Kalau mendapatkan lingkungan demikian, hanya ada dua kemungkinan. Patah arang menulis tersebab takut dicemooh, atau melawannya dengan terus menulis. Peduli amat dengan pencemooh. Dari cemoohan dilecut semangat untuk menbuat tulisan bagus, jadikan pelecut motivasi.

Takut dicemooh hal wajar saja. Yang tidak wajar adalah tidak berusaha agar tidak dicemooh. Artinya, berusaha menulis sebaik mungkin. Lebih tidak wajar lagi, berkeinginan menulis, tetapi membesar-besarkan ketakutan dicemooh dengan tidak menulis. Lalu, bagaimana dong?

Lawan ketakutan dicemooh dengan menulis, terus menulis. Fasihkan menulis hingga pada ketikanya lobang-lobang percemoohan tertutup. Mana tahu, Sang Pencemooh menjadi penggemar tulisan Sampeyan.

Ada dua tipe manusia menghadapi cemooh. Pertama, melawan dengan menulis lebih baik, membelajarkan diri menulis, menulis dan terus menulis. Kedua, bertekuk lutut. Keinginan menulis dikubur dengan mengingat-ingat cemoohan dengan sempurna. Memilih yang mana? Terserah Sampeyan. Yang pasti melawan cemoohan dengan menulis akan mengalahkan cemoohan sekaligus pencemoohnya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Baca lengkap di: Menulis Tanpa Berguru