Kiat Menulis 3 : TAKUT MANDEK

MASIH hangat dalam ingatan ketika MAN 2 Model Banjarmasin bermiladria dimana saya didaulat memacu semangat menulis di kalangan guru-guru pada Seminar Motivasi Kepenulisan, Sabtu 14 Februari 2009. Temanya keren: ‘Dengan Menulis Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru’.

Di hadapan seratus lebih guru yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan ditandaskan: Semua kita born to be a genius. Allah memberi kita otak bermuatan setriliun sel syaraf, neuron. Bila digunakan, setiap neuron mampu berkoneksi 20.000. Pendek kata, kapasitas otak tidak terbatas. Silakan gunakan.

Hal menulis itu hal kecil saja. Apalagi sejak awal sekolah telah terbiasa menulis. Ketika menjadi mahasiswa akrab dengan makalah sampai akhirnya membuat skripsi. Ketika menjadi guru, urusan tulis-menulis hal keseharian saja. Lalu, kenapa mendustai diri, tidak mampu menulis? Jangan berdustalah, pancing saya.

Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, mendustai diri. Sudah terbukti mampu menulis, eit … mengaku tidak bisa. Dusta itu dosa, masuk neraka baru tahu. Geeeeeer.

Ya, ringkasnya begitu. Saya suntik, kita (guru) punya modal pengetahuan, medan pembelajaran, pengalaman, dan seterusnya. Rangkaiannya sangat kondusif untuk menulis. Persoalannya, di ‘lahan basah’ tersebut karya tulis guru memprihatinkan. Terlalu banyak guru menanamkan mindset, menancapkan di balik jidatnya, menulis itu susah. Ada apa?

MENULIS, MENULIS, DAN MENULIS

Ya, penyebabnya karena menulis tidak dibiasakan. Menulis tidak dijadikan kebutuhan. Menulis dianggap aktivitas yang kurang memberi manfaat. Mindsed tersebut perlu dibunuh. Kini saatnya meninggalkan ‘pegangan’ tidak karu-karuan tersebut. Mulai sekarang, mari menulis. Caranya?

Tulis apa yang hendak ditulis. Tulis apa yang dipahami, dialami, dipikirkan. Jangan memikirkan apa yang akan ditulis. Tulislah hal-hal yang melekad di diri. Sulit menulis karena menulis hal yang tidak dipahami.

“Sudah Pak. Tetapi, menulis dua aline mandek”. Ada empat orang menyoal. Diawab: “Bagus. Begitulah seharusnya”. Mau bingung atau apa, terserah. Artinya, mandek menulis perlu dilawan. Tinggal pindai faktor penyebabnya. Bisa ide belum matang, tidak fokus, yang ditulis tidak dikuasai, dan seterusnya.

Tugas kita belajar dari kemandekan tersebut. Kalau perlu … lawan. Buat tulisan kenapa mandek menulis. Biar mandeknya lari bak diburu setan. Geeeeeeer.

Akhirnya dipatok. Hanya ada tiga cara agar fasih menulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, menulis dan terus menulis. Terus menerus menulis. Itu resepnya. Soal mandek? Ah, kura-kura dalam perahu.

Berkacalah. Yang menulis siapa? Yang memandekkan, menjadikan involusi, tidak melanjutkan tulisan siapa? Atau, gunakan logika dasar, kalau menulisnya dilanjutkan sampai tulisan menjadi, apakah mungkin terjadi kemandekkan? Pasti tidak. Tepatnya, kemandekan bermula dari pikiran. Wong pikirannya distop jelas saja jari-jari tangan juga stop menari-nari di keyboard. Bukankah begitu?

Bagaimana menurut Sampeyan?

Baca lengkap di: Menulis Tanpa Berguru