Situasi Chairil Anwar (4)

Saya telah menekankan Chairil Anwar sebagai penerus tradisi persajakan sebelumnya. Minat sidang pembaca yang terlalu besar kepada sajak “Aku” atau “Semangat” misalnya, membuktikan bahwa mereka mungkin terlalu kerap menekankan peran penyair yang lahir di Medan pada tahun 1922 itu pada kemahirannya—mungkin juga pada kepeloporannya—menggarap sajak bebas. Di titik ini saya hendak menekankan bahwa sajak bebas pun sebuah konvensi, khususnya konvensi dalam khazanah puisi modern sedunia, dan dengan ini Chairil menyatukan dengan sastra dunia sezamannya. Dengan kata lain, sajak bebas pun adalah hasil disiplin yang tersendiri. Pun dalam khazanah kita, Chairil bukan orang pertama yang mengerjakan sajak bebas; sejumlah penyair Pujangga Baru seperti Roestam Effendi, J.E. Tatengkeng dan Amir Hamzah pun sudah melakukannya. Demikianlah,

Selengkapnya...

 

Menulis: Dinding Yang Bersih

ALKISAH saya pernah membuat isteri terperangah. Betapa tidak. Memintanya membongkar almari pakaian, dan pakaian yang tidak dipakai ‘dihibahkan’. Mula-mula sewot. Maklumlah perempuan. Mengoleksi pakaian, adalah kesenangan tersendiri. Begitulah, pakaian anak-anak yang masih layak

Selengkapnya...

 

Life After Crisis

Let’s talk about life.

Lately I met a lot of people who share me their personal problems. And as far as I remember, everybody have problems.

Problems are there, not only to be solved, but also be the point of our learning process. So, if you face problems then whine, pity

Selengkapnya...

 

Menulis: Mengamini Kritik, Kenapa Tidak?

TULISAN Sampeyan pernah dikritk? Kalau saya sih sudah ‘kenyang’. Jangankan dikritik, dihujat, dan ini yang seru, bahkan pernah ‘disidangkan’ oleh panitia ad hock Senat Fakultas tempat bekerja. Mendapat pengalaman baru. Banyak cara dan jalan untuk mendapatkan pelajaran.

Idealnya,

Selengkapnya...