Menuliskan Ide

Pernah membayangkan hidup era purbakala? Manusia tergantung pada alam, food gathering. Persis binatang. Tetapi, manusia dengan pikirannya mengembangkan pengetahuan. Mengembangkan ide untuk memproduksi kebutuhan makannya dengan mengolah alam, food producting. Kehidupan manusia adalah dunia

Selengkapnya...

 

Dari Maroon 5 Sampai Desa Ciporeat

Wokeh.
Blog ini saking lamanya gak diupdate,
pas gue cek lagi ada gembel lagi bikin tenda di dalemnya.

Maaf atas mulai tidak terurusnya blog ini. Seperti biasa, alasan klasik gue adalah, ehm, gue lagi sibuk2nya keliling dari kota ke kota. Kemarin gue baru dari Palembang,

Selengkapnya...

 

Ide dan Memulai Menulis

Dari mana memulai menulis? Ya, dari idelah. Kalau ide menyapa dapat dikatakan 90% tulisan sudah ‘selesai’. Tetapi, kalau ada ide, dibiarkan, ya tidak akan menjadi tulisan. Ide itu berkah, rahmat, sekaligus hidayah. Karena itu ide jangan disia-siakan. Ide hal sangat berharga. Hargailah ide

Selengkapnya...

 

Situasi Chairil Anwar (5)

Malah tak jarang cukuplah kita puas (dan sekaligus terkejut selalu) dengan sebuah bagian atau sebuah frase saja dari Chairil Anwar, sementara bentuk sajak dalam keseluruhannya hanyalah wadah untuk menonjolkan evokasi yang sedikit itu. Pada sajak “Di Mesjid”, Tuhan bukanlah Dia yang didatangi, tetapi yang dipaksa datang dengan seruan, dan ruang ibadah menjadi ruang di mana si aku dan Tuhan “binasa-membinasa”, berperang. Antitesis-nya barangkali adalah puisi “Doa”, di mana si aku di depan Tuhannya menjadi “hilang bentuk” dan “remuk”. Dalam sajak “Hampa”, sepi bukan lagi hanya situasi, tetapi menjadi organisme, yang melalui pengulangan bertingkat menjadi kian besar, membuat pohonan lurus-kaku dan setan bertempik. (Bagi saya, “Hampa”, lagi-lagi, melanjut-tumbuhkan sajak “Sunyi Itu Duka” Amir Hamzah.)

Selengkapnya...