Looking for Liberal Islam: An Indonesia Story

I WAS in New York on September 11, 2001. I was still in New York in the wake of The Attack – some five days after they destroyed the Twin Towers and killed more than 4000 people. I saw how the City suffered, and felt its agony. But during the terror, the grief, and the anger pervading the rest

Selengkapnya...

 

Menulis? Sibuklah (2.6)

Alhamdulillah, pukul 17.00 ke luar kamar kos. Ke RM Sambalado di Panorama Bandung. Mengambil laundrian. Sejak kemarin menjadi anak kos sungguhan. Tidak kemana-mana. Dua puluhan buku berserakan. Visi SMS: Pak sudah shalat? Istri SMS: Sudah makan Da? Antra dari Bali SMS: Nanti malam menuju Malang.

Selengkapnya...

 

Mendiskusikan ‘Kodrat Menulis’ (2.4)

Bagi yang sudah terbiasa menulis, tentu mudah. Bagi kami yang baru memulai, jelas saja susah. Terkadang tertawa dengan bangun logika banyak pesharing menulis. Saya tidak pernah mendikhotomikan sedemikian. Bagi saya, menulis itu belajar. Tidak ada orang dilahirkan langsung piawai menulis. Karena

Selengkapnya...

 

Empat Jari VS 1 Telunjuk (2.3)

Ketika Satanic Verse Shalman Rushdie dipublikasikan ‘Dunia Islam’ geger, sebagaimana jahilan karikaturis Denmark atau filmer Belanda melansir Fatima. Wajar, mereka hanya memuaskan kehendak tanpa mempertimbangkan keyakinan umat Islam. Ibarat macan, mencari gara-gara.

Yang tidak lucu,

Selengkapnya...