
Setiap kali kita merasa puisi Indonesia bergerak terlalu jauh ke kiri atau ke kanan, kita membaca kembali puisi Sapardi Djoko Damono. Barangkali tidak sekadar membaca kembali, tapi membaca terus-menerus, karena kita tak nyaman terpental-pental oleh dua ekstrem itu. Puisi Sapardi menjadi titik moderat manakala di ujung kiri puisi kita menjadi pucat-pasi, menjadi puisi amanat; dan di ujung kanan, puisi menjadi gelap tak tertembus, menjadi barang untuk