Saya berbicara tentang paradoks dalam membaca puisi—atau paradoks dalam puisi itu sendiri. Jika anda mengira bahwa saya menanggung derita dalam menghadapi puisi, sesungguhnya saya merasa girang (meskipun, saya kira, tulisan ini mencoba selalu menghindari katasifat). Melalui puisi, bahasa meragukan dirinya sebagai alat komunikasi, terutama ketika komunikasi hanya jadi topeng bagi penghambaan si penerima ujaran kepada si pengujar. Membaca puisi adalah mencurigai pembacaan itu sendiri, jika saja pembacaan adalah jalan menuju pengertian dan konsensus. Puisi berdusta, dan secara diam-diam menyatakan dirinya berdusta, supaya kita tidak mengharapkan kebenaran apa pun daripadanya. Tetapi kita tetap saja berharap, karena kita percaya bahwa bahasa telanjur mengangkut sebagian pengalaman kita; sedangkan puisi, masih saja mencoba mengambil
Selengkapnya...